Komunikasi dan Sosiologi Komunikasi

Theodornoson dan Theodonorson (1969) memberi batasan lingkup communication berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikap-sikap atau emosi dari seorang kelompok kepada yang lain (atau lain-lainnya) terutama melalui simbol-simbol. Garbner (1967) mengatakan communication dapat didefinisikan sebagai social interaction melalui pesan-pesan (McQuail dan Windahl,tt:4)

Pada pembahasan ini, fokus yang menjadi issues adalah Media Televisi dengan tinjauan Televisi dan Masyarakat, yang di kaji dari beberapa perspektif. Pelbagai pendekatan kritis terhadap televisi, dalam beberapa hal dibentuk oleh persepsi tentang medium, dan karenanya bersifat partikular. Pendekatan ini juga merupakan sebuah acuan umum dalam studi media yang sudah barang tentu dalam pelbagai ungkapan terkait dengan budaya dan masyarakat. Beberapa studi komunikasi membahas adanya kekuatan dan pengaruh televisi, yang melebihi kekuatan dan pengaruh media lain.
Televisi umumnya dipahami dalam interaksinya dengan pemirsa. Lebih dalam kita dapat memulainya dari ketersediaan dan aksesibilitas penuh terhadap keberadaan televisi di rumah; dengan volume pemprograman, dengan silih bergantinya khalayak selama sehari. Pemirsaan digambarkan sebagai kesenangan. Skala interaksi antara produk dan khlayak berbanding lurus dengan kesenangan (hiburan) yang diperoleh di dalam mengkonsumsi program-program televisi tersebut.

Media televisi pada perkembangan nya lebih cenderung menjadi medium yang berfokus pada sisi ekonomi ketimbang ekudasi sebagaimana seyogyanya televisi dalam peran utamanya. Sebuah Stasiun Televisi di era globalisasi seperti saat ini, mampu menghidupi dirinya dengan jenis-jenis program seperti: serial, sport, news, infotainment dll
Program yang berlabel “Silat Lidah” ini merupakan sebuah program Talk Show dengan “gaya “ baru – yang di claim oleh pembuat program sebagai Program Talk Show bernuansa beda dari Talk Show kebanyakan. Inti dari program Talk Show ini adalah mengangkat issues-issues ringan, terkadang issues yang controversial – umumnya berhubungan dengan cara hidup, gaya hidup orang-orang kota yang melabelkan diri sebagai “Kaum Metropolis”
Nama Program : Silat Lidah
Stasiun Televisi : ANTV
Jenis Program : Talk Show
Deskripsi Program:
Silat Lidah merupakan program baru di ANTV dengan jenis program Talk Show. Dengan host seorang Pria yang di positioning kan sebagai figur pria metropolis – pleasure seekers, trendy, metro-sexual, percaya diri tinggi. Dalam Talk Show ini, gaya baru yang ditampilkan adalah bagaimana program ini menghadirkan enam panelis tetap yang kesemuanya adalah perempuan – dengan figur perempuan mandiri, cantik, sukses di karirnya. Public-public figure yang berprofesi artis, bintang sinetron,model, penulis, news caster dan juga ada pelaku seni theater ini menambah semarak Talk Show Silat Lidah ini diakui sebagai Program Talk Show yang “ramai” dan lebih greget dari yang biasa. Talk Show yang ditayangkan setiap Selasa & Kamis, Pukul 22.00 – 23.00 ini secara gamblang, terbuka (open mind) dalam membahas topik-topik yang diangkat sebagai issues.
Seperti setiap program tayangan lainnya- Silat Lidah sebagai Program Talk Show memiliki efek postif dan efek negatif terhadap pemirsa. Dalam kajian berikut efek negatif tayangan Talk Show ini yang akan dikaji secara lebih mendalam. Sebagai contoh diambil penayangan tanggal 2 Oktober 2007 dengan topik “ Selingkuh dengan Saudara Tiri”
Tayangan Talk Show ini selalu diawali dengan pembacaan surat dari pemirsa melalui email oleh Host – Irwan, di mana setelah surat dibacakan “issues” yang dibacakan tersebut di lempar kepada para panelis untuk dikomentari. Kemudian, akan ada sebuah sambungan telepon dari pemirsa yang juga memiliki persoalan yang sama, menceritakan secara langsung permasalahan yang dimilikinya dan menunggu komentar-komentar dari para panelis. Jawaban-jawaban yang diberikan, tidak selalu sependapat antara satu panelis dengan panelis yang lain- terkadang diantara panelis pun terjadi perdebatan untuk mempertahankan opini/pendapat. Masing-masing penelis berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, status perkawinan yang berbeda, juga usia yang berbeda. Secara psikologi komunikasi hal-hal tersebut mempengaruhi cara mereka berkomunikasi mengeluarkan pendapat – sebuah konsep diri yang tertuang dalam opini; contoh dari enam panelis dua diantaranya yang dapat di komparasikan memiliki konsep diri yang berlawanan adalah Ria Irawan yang berprofesi artis, sempat hidup di lingkungan budaya barat, cenderung lebih terbuka (open minded), blak-blakan dalam berpendapat, sementara Ratna Sarumpaet, pelaku Teater yang berusia di pertengahan 50 tahun, biasanya menjawab lebih bergaya menasihati, bijak layaknya seorang perempuan yang beranak cucu, dengan pemikiran-pemikiran konvensional.
Lebih jauh Progam Talk Show ini akan dibahas (analyze) dari sudut pandang Ilmu Komunikasi, khususnya Sosiologi Media Komunikasi dengan mengkaji dari perspektif berikut:
 Perspektif Fungsi Media
 Perspektif Hubungan Media dan Masyarakat
 Sistem Sosial Media
 Efek Sosial

III. Analisis Program (Produk)
3.1.1 Perspektif Fungsionalisme Struktural (Fungsi Media bagi Masyarakat)
Marshall McLuhan menyebutkan bahwa era yang kita lakoni saat ini sebagai “lingkungan global” (global village). Media komunikasi modern memungkinkan berjuta-juta orang di seluruh dunia dapat saling berhubungan. Seperti yang telah disinggung pada awal kajian- bahwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembahasan komunikasi massa adalah media massa. Secara makro, teori-teori komunikasi massa menyoroti hubungan dan fungsi media bagi masyarakat dan pengaruh timbal balik antara struktur masyrakat dengan media tersebut. Fungsi media massa bagi masyarakat – digambarkan dalam Tabel Inventori Fungsional Parsial Komunikasi Massa sebagai berikut:
AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA PENGAWASAN (INFORMASI/ BERITA)
 peringatan bahaya alam, perang, berita penting bagi ekonomi, dll AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA KORELASI (PILIHAN EDITORIAL, INTERPRETASI, PETUNJUK)
 memberikan efisiensi, mengasimilasi berita dll
AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA TRANSMISI BUDAYA meningkatkan kohesi sosial, mempertahankan konsensus budaya,membantu integrasi penghadapan pada norma-norma yang umum,dll AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA HIBURAN
 pelepas ketegangan bagi publik, mengalihkan perhatian publik, meredakan ketengan sosial, dll

3.1.1 Aktifitas Komunikasi Massa Sebagai Hiburan
Pada program Silat Lidah aktifitas yang dikomunikasikan kepada massa berupa hiburan – dimana hal ini merupakan gagasan ihwal kesenangan yang kerap dihubungkan dengan televisi sebagai media hiburan. Contoh pendekatan ini berkenaan dengan kesenangan menonton yang bersifat sinematik. Namun tidak seperti film yang hampir isi keseluruhannya adalah fiksi, televisi memasukkan proporsi produk faktual yang cukup besar. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “hiburan”? Pemirsa dapat mengalihkan perhatian dari topik-topik politik, ekonomi ataupun ketegangan sosial lainnya dengan menonton program Bincang Ringan (= Silat Lidah, Oprah, Dorce Show, Tukul dll) atau pun menikmati sinetron sebagai “hiburan” – namun bagaimanapun pembagian program televisi saat ini antara program faktual (yang bukan kontruksi media) dan fiksional teramat kabur. Bahkan program bincang-bincang pun bisa jadi telah melewati tahapan make over / dramatisasi – yang menandai bahwa kebanyakan suatu program dibuat tak lebih untuk memenuhi sifat ekonomi nya saja (John Hartley (1992) berpendapat bahwa televisi hanyalah usaha kapitalis, sumber kesenangan yang populer).
Hingga taraf tertentu, pada umumnya keakraban yang menyenangkan ketika menonton televisi adalah kesenangan khusus berhubungan dengan familiaritas program atau tokoh yang terkait dengan program. Pengakuan membawa keamanan. Kebiasaan menonton merupakan upaya untuk memperoleh rasa aman, terlepas dari kesenangan untuk terlibat kembali dengan topik pokok persoalan yang bisa kita sepakati dan tokoh yang kita anggap menarik untuk alasan-alasan lainnya. Tidak ada sesuatu yang begitu efektif membuka percakapan antara dua individu, melainkan bercakap tentang program televisi yang ditonton (tidak terlalu penting apakah isi program berkualitas atau “kacangan”), sedikitnya beberapa program telah menjadi pangalaman sosial dan budaya yang umum. Keterlibatan di dalam program juga membawa kesenangan yang membawa kita untuk menaruh perhatian pada kualitas pemirsaan yang bersifat aktif – program interaktif menjadikan makna tidak sekedar diserap melalui mata; makna juga dibangun dalam benak. Keterlibatan yang umum, termasuk berbicara dengan partisipan program (on air) atau bercakap dengan pemirsa lain pada saat program berlangsung atau mencoba memberikan solusi bagi suatu permasalahan, menjadi bagian yang menghibur dari sebuah produk televisi.
Pada Program Talk Show ANTV “Silat Lidah” – pemilihan judul program sedikit banyak memberikan gambaran kepada pemirsa seperti apakah karakteristik program berdurasi 1 jam ini sebagai sebuah genre yang menayangkan aktifitas program bincang (percakapan) yang mengarah pada perdebatan, yang memancing perhatian pemirsa untuk menontonnya. Sebagaimana dalam karakteristik sekuen judul sebuah produk, disebutkan beberapa dimensi pembuatan Judul sebuah Produk Media sebagai berikut:
 Peralihan yang diisyaratkan: menarik perhatian (Identitas Program)
 Narasi yang menyusul ketinggalan (continuities setting)
 Karakter yang menentukan
 Mood Setting  judul menghasilkan suatu respon emosional
 Referensialitas  symbol, ikon, peribahasa, referensi intertekstual
Dari kelima dimensi pembuatan sebuah judul program – “Silat Lidah” telah memenuhi beberapa karakteristik yang menjadi dimensi sebuah judul program hiburan; di mana judul cukup menarik ketertarikan pemirsa untuk mencari tahu lebih jauh content program tersebut, adanya karakter yang menentukan (dipasang nya beberapa public figure yang memiliki value; cerdas, cantik, sukses), mood setting – respon emosional dari judul yang dilabelkan sebagai cara berbicara dengan pemirsa.
3.1.2 Aktifitas Komunikasi Massa sebagai Transmisi Budaya
Kehidupan masyarakat kota pada umumnya satu sama lain tidak saling mengenal dan interaksi-interaksi mereka didasari oleh kepentingan dan kebutuhan yang dilandasi pada hubungan sekunder, sehingga secara real media massa telah menjadi salah satu kebutuhan dalam berinteraksi di dalam masyarakat perkotaan satu dengan lainnya. Seperti yang telah disinggung di awal- bahwa sebuah produk media massa dibuat tidak lagi dibuat hanya sebagai pemenuhan kebutuhan publik atas eksistensi media massa sebagai media informasi, namun juga telah sarat dengan muatan ekonomis (komersial) yang harus dikejar mengingat media massa (televisi) adalah industri yang membutuhkan dana besar melalui iklan. Kebanyakan produk televisi saat ini merupakan produk budaya massa- yaitu:
 Produk yang dihasilkan karena tuntutan industri kepada produser untuk menelurkan program-program yang banyak dalam waktu singkat –sehingga tak ada lagi waktu bagi produser untuk membuat suatu produk yang ideal
 Massa budaya cenderung latah menyulap atau meniru segala sesuatu yang sedang naik daun atau laris, sehingga konsep follower ini berseberangan dengan idialisme pembuatan sebuah produk yang bermuatan positif sebagaimana mestinya (= program yang dibuat dengan konsep serius (biasanya yang bernuansa politik, ekonomi, kebangsaan dll), terkadang membuat “ngeri” pemasang iklan untuk membeli ruang iklan yang ditawarkan)
Budaya Massa cenderung dipengaruhi budaya popular – pemikiran budaya popular menurut Ben Agger (1992;24) dapat dikelompokkan diantaranya; (a) budaya dibangun berdasarkan kesenangan namun tidak substansial dan mengentaskan orang dari kejenuhan kerja sepanjang hari; (b) Kebudayaan popular menghancurkan kebudayaan tradisional;

Sebuah budaya yang akan memasuki dunia hiburan, maka umumnya menempatkan unsur popular sebagai unsur utamanya. Dan budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai by pass penyebaran pengaruh di masyarakat. Mengekspresikan budaya dominant dan mengakui keberadaan kebudayaan khusus (subculture) serta perkembangan budaya baru.
Pada program “Silat Lidah” unsur budaya popular demikian kental mewarnai content/ isi program. Dengan icon-icon public figure yang identik dengan budaya modern; contoh: Julia Perez – salah satu panelis “Silat Lidah” foto model internasional, icon Majalah Play Boy Eropa, menikah dengan pria berkebangsaan Perancis dengan status pernikahan yang “menggantung”; cenderung selalu beropini yang jauh dari sifat konservatif.
Kebudayaan popular lebih banyak berpengaruh pada kelompok orang muda dan menjadi pusat ideologi masyarakat dan kebudayaan, meski budaya popular terus menjadi kontradiksi dan perdebatan – sebagai yang merusak kebudayaan tradisional.
Proses reproduksi juga terjadi pada saat budaya hiburan mampu mereproduksi tatanan baru dalam interaksi individu dan keluarga di masyarakat. Seperti pada salah satu topik yang diangkat menjadi issue pada tayangan Silat Lidah berjudul “ Selingkuh dengan Saudara Tiri” – produser mereproduksi hubungan perselingkuhan sebagai bagian yang dulu ditolak masyarakat, menjadi hal yang samara-samar atau malahan hal yang biasa. Reproduksi semacam ini semakin membiaskan kaidah dasar tentang kesalahan dan kebenaran, seolah kemerdekaan pribadi menjadi ukuran utama dan dalam dunia postmodern ukuran ini semakin tidak jelas.

Tanda di Dalam Iklan Televisi

Makna menjelaskan hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu isyarat (tanda-tanda). Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi (Sobur, 2006:15). Manusia dengan perantaraan tanda-tanda tersebut mampu melakukan komunikasi dengan sesamanya. Suatu isyarat (tanda) menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, dan makna ialah hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu tanda (Littlejohn, 1996:64; Sobur, 2006:16).

Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang secara luas berkaitan dengan simbol, bahasa, wacana dan bentuk-bentuk nonverbal, teori-teori yang menjelaskan tentang bagaimana tanda tersebut disusun dan berhubungan. Dengan tanda-tanda, manusia berupaya mencari keteraturan dalam ketidakberaturan, atau setidaknya sebagai pegangan dalam berinteraksi dengan sesama.

Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan dalam sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut tanda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkai bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap, berbicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk, bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan, semuanya itu dianggap sebagai tanda (Zoest, 1993:18).

Tanda menurut Susanne Langer dalam Philosphy in New Key adalah stimulus yang menandakan keberadaan sesuatu yang lain di luar tanda tersebut. Langer menempatkan tanda-tanda sebagai sentral filosofi dikarenakan hal itu menyangkut segala sesuatu yang di ketahui dan di mengerti oleh manusia. Menurut Langer, kehidupan binatang di dominasi oleh perasaan, namun bagi manusia perasaan di mediasi oleh konsepsi, simbol, dan bahasa. Sebagai contoh apabila anda melatih anjing anda untuk berguling setiap kali anda meneriakkan kata ”berguling” kepada anjing Anda, kata ”berguling” tersebut menandakan anjing anda untuk melakukan seperti yang anda perintahkan. Lebih jauh dari apa yang di kemukakan di atas, bahwa tanda juga merujuk secara dekat dengan situasi yang sesungguhnya. Awan hitam menjadi tanda hari akan hujan, tawa menandakan kebahagiaan, lampu merah tanda dari rambu lalu lintas. Bagi Langer, simbol (tanda) merupakan sentral dari kehidupan manusia. Individu memiliki kemampuan untuk mempergunakan tanda dan individu juga memiliki kebutuhan dasar atas tanda-tanda tersebut. Individu memusatkan kehidupan fisik dan sosialnya melalui tanda dan makna tanda-tanda itu sendiri (Littlejohn, 2006:101)

Tanda dalam kehidupan manusia bisa tanda gerak atau isyarat. Lambaian tangan yang bisa diartikan memanggil atau anggukan kepala dapat diterjemahkan setuju. Tanda bunyi, seperti tiupan peluit, terompet, genderang, suara manusia, dering telpon. Tanda tulisan, di antaranya huruf dan angka. Bisa juga tanda gambar berbentuk rambu lalulintas, dan masih banyak ragamnya (Noth, 1995:44).

Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut referent. Mawar merah mengacu pada perasaan cinta. Wajah cerah menandakan kebahagiaan. Air mata menandakan kesedihan. Apabila hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak orang yang melihat atau mendengar akan timbul pengertian (Eco, 1979:59).

Jika pemaparan diatas dikaitkan dengan bekerjanya sebuah iklan komersial di televisi (TVC), maka setiap pesan iklan merupakan pertemuan antara signifier (lapisan ungkapan) dan signified (lapisan makna). Lewat unsur verbal dan visual (nonverbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, di mana makna pesan dapat dipahami secara utuh (Barthes, 1998:172-173).

Terobosan penting pada semiotika adalah diterimanya penerapan konsep-konsep linguistik ke dalam fenomena lain yang bukan hanya bahasa tertulis; yang dalam pendekatan ini lantas diandaikan sebagai teks pula. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan produk media, seluruh tampilan media baik dalam bentuk tulisan, visual, audio, bahkan audiovisual sekalipun akan dianggap sebagai teks. Maka sebuah iklan televisi yang ingin menghadirkan konstruksi makna perlu memperlakukan keseluruhan unsur dalam iklan tersebut sebagai teks, sekaligus mempertautkannya dengan fenomena sosial yang kontekstual.

Satu hal yang tidak dapat diabaikan dalam pendekatan semiotika adalah pentingnya peran bahasa. Suatu makna diproduksi dari konsep-konsep dalam pikiran seorang pemberi makna (pembaca) melalui bahasa. Representasi merupakan hubungan antara tanda konsep-konsep yang memungkinkan pembaca menunjuk pada dunia yang sesungguhnya dari suatu obyek, realitas, atau pada dunia imajiner tentang obyek fiktif, manusia atau peristiwa. Sebuah scene iklan yang menggambarkan sepasang suami istri yang berpegangan tangan saat tidur bersama, merepresentasikan konsep sebuah kedekatan relasi antar gender.

Sebuah teks (karya) hanya dapat eksis, menurut Kristeva, apabila di dalamnya, beberapa ungkapan yang berasal dari teks-teks lain, silang menyilang dan saling menetralisir satu dengan lainnya. Sebagai proses linguistik dan diskursif, Kristeva menjelaskan intertektualitas sebagai pelintasan dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya. Julia Kristeva menggunakan istilah intertekstualitas untuk menjelaskan fenomena dialog antarteks ini, adanya kesalingtergantungan antara suatu teks (karya) dengan teks (karya) sebelumnya. Apa yang didefinisikan oleh Kristeva sebagai intertektualitas, terlihat pada tanda iklan yang terhegemoni. Dengan hegemoni tanda, wanita dalam ruang publik media massa (iklan) menjadi obyek bagi kaum kapitalis – yaitu produsen dan pengiklan.

Alhamdulillah, Ini Tentang Cinta!

“Aku memulainya dengan cinta, sedang menjalaninya dengan cinta, maka akan ku akhiri dengan cinta”..

Begitu ajaib memang sebuah terminology cinta itu. Ketika kita jatuh cinta, semua begitu indah di pandang mata. Mungkin, semestinya rasa yang sama juga harus ada saat sebuah cinta harus terakhiri. Begitu “indah” – karena sesungguhnya cinta itu hadir tak musti menyakiti hati. Segala yang berawal pasti ada akhir. Semua yang hidup sudah pasti akan mati. Kesempurnaan cinta, adalah saat kita kembali pada Ia. Lantas, di mana cinta harus kita simpan saat itu datang?

Pengertian Komunikasi Pemasaran

De Lozier dalam bukunya ‘The Marketing Communications Process’ memberikan definisi macro dan mikro dari konsep Komunikasi Pemasaran, yaitu sebagai berikut :
Definisi Macro : Marketing communications is the continuing dialogue between buyers and sellers in marketplace
(Komunikasi Pemasaran adalah suatu dialog yang berkesinambungan diantara pembeli dan penjual dalam suatu pangsa pasar)

Definisi Micro : Marketing communications is (1) the process of presenting an integrated set of stimuli to a market target with the intent of evoking a desired set of responses within that market target, and (2) setting up channels to receive, interpret and act upon messages from the market for the purposes of modifying present company messages and identying new communication opportunities
(Komunikasi Pemasaran adalah : (1) suatu proses penyampaian seperangkat stimulus yang terintegrasi kepada suatu pasar sasaran dengan tujuan membangkitkan tanggapan-tanggapan yang sesuai dengan harapan, dan (2) pengaturan saluran-saluran untuk penerimaan, pengintrepretasian dan penentuan tindakan atas pesan-pesan yang diterima dari pasar sasaran untuk keperluan memodifikasi pesan-pesan yang ada serta mengidentifikasi kesempatan-kesempatan baru komunikasi bagi perusahaan)

Dari kedua definisi tersebut, pada intinya Komunikasi Pemasaran merupakan suatu proses pengolahan, produksi dan penyampaian pesan-pesan melalui satu atau berbagai saluran yang dilakukan secara berkesinambungan dan terpadu dengan tujuan menunjang pemasaran suatu produk tertentu.

Teman atau Lawan, Media Televisi?

Media massa adalah media komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara missal pula. Informasi massa adalah informasi yang diperuntukkan untuk khalayak banyak bukan informasi yang dikonsumsi secara pribadi. Komunikasi Massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.

Bittner (dalam Karlinah, dkk 1999):
“Mass Communication is messages communicated trough a mass medium to a large number of people”

Dengan demikian konsep dasar dari komunikasi massa adalah komunikasi dengan media massa. Media massa merupakan institusi penghubung seluruh kmponen masyarakat melalui produk media massa yang dihasilkan. Dalam penyampaian berbagai produk tayangan, media massa berupaya secara maksimal menyesuaikan dengan heterogonitas khlayaknya dari berbagai sosio-ekonomi, kultural dan lainnya. Produk media pun pada akhirnya dibentuk sedemikian rupa, sehingga mampu diterima oleh banyak orang. Media massa menjadi medium budaya massa yang bersifat hiburan.

Menurut Richard Dyers (During,1993;271-272), hiburan merupakan respons emosi jiwa dan perkembangan implikasi emosi diri, merupakan suatu tanda keinginan manusia yang meronta-ronta ingin ditanggapi dengan memenuhinya. Prinsip yang subtansi dalam hiburan adalah kesenangan yang tertanam dan menjelma dalam kehidupan manusia sehingga pada kesempatan lain akan menjelma menjadi budaya manusia – yang akhirnya kesenangan itu menjadi larut dalam kebutuhan manusia yang lebih besar bahkan menjadi eksistensi kehidupan manusia. Konteks sosial semacam ini lebih cenderung membawa manusia dalam dunia yang serba tiruan, dalam artian kefanaan menjadi sebuah tujuan kongkret dari apa yang diperjuangkan manusia itu sendiri. Dan saat tipuan itu dimanipulasi oleh industri, maka tipuan ini menjadi abadi dalam dunia fana.

Kemajuan teknologi telekomunikasi ini telah membentuk dunia seolah begitu kecil, semua kejadian di belahan dunia manapun terlihat dalam sekejap dihadapan kita. Teknologi modern menjadikan informasi global dapat diperoleh di seluruh dunia; melalui televisi dan internet, dimana menjadikan situasi di dunia luar terbentang di layar kaca.

Media massa secara real telah menjadi salah satu kebutuhan hidup manusia sebagai masyarakat media dibelahan dunia manapun untuk dapat berinteraksi dengan individu masyarakat media lainnya. Seperti yang telah disinggung di awal bahwasanya media massa bernilai hiburan bagi individu, yang secara teoritis juga berfungsi sebagai saluran informasi dan edukasi. Namu kenyataannya media massa memberikan efektif lain di luar fungsinya itu. Efek media massa tidak hanya mempengaruhi sikap seseorang namun juga mempengaruhi perilaku, bahkan pada tatarn yang lebih mendalam efek media massa mempengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat. Efek media mempengaruhi individu dalam kurun waktu pendek dan panjang, ini disebabkan efek media massa dapat terjadi secara sengaja maupun tanpa sengaja dalam penerimaannya di masyarakat.

Denis McQuail (2002:425-426) menjelaskan, bahwa efek media massa memiliki typology yang mana terdiri dari empat bagian yang besar. Pertama efek media merupakan efek yang direncanakan, sebagai sebuah efek yang diharapkan terjadi baik oleh media massa sendiri maupun individu yang menggunakan media massa untuk kepentingan penyebaran informasi. Kedua, efek media massa yang tidak direncanakan atau tidak dapat diperkirakan, sebagai efek yang benar-benar di luar kontrol media, diluar kemampuan media maupun orang lain yang menggunakan media untuk penyebaran informasi melalui media untuk mengontrol terjadinya efek media massa.Jadi, pada efek kedua ini, efek media terjadi dalam kondisi tidak dapt dikontrol. Ketiga, efek media massa terjadi dalam waktu pendek, namun secara cepat, instant, dank eras mempengaruhi individu atau kelompok masyarakat. Keempat, efek media massa berlangsung dalam waktu yang lama, sehingga mempengaruhi sikap-sikap adopsi inovasi, kontrol sosial sampai dengan persoalan-persoalan perubahan budaya.

Dalam perjalanan perkembangan komunikasi, efek media massa sebagai satu medium penyebaran informasi, edukasi maupun hiburan, mengalami perputaran (cycle) dalam teori nya. Khususnya yang berkenaan dengan teori efek media massa televisi. Hingga kini masih banyak pengamat televisi yang begitu yakin mengenai efek pesan televisi. Pesan melalui televisi diyakini berpengaruh langsung terhadap pemirsanya, baik itu kognitif, afektif, maupun behavioral. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang begitu yakin bahwa televisi dapat merusak ideologi suatu bangsa. Keyakinan itu memang ada dasar rujukannya. Awalnya, media massa dipandang berpengaruh kuat. Pengaruhnya langsung terhadap perubahan sikap dan perilaku masyarakat yang pasif dan tidak selektif. Masyarakat demikian dianggap menerima begitu saja setiap rangsangan (pesan) dari media massa. Pandangan berikutnya, pengaruh media massa dianggap terbatas. Anggapan ini muncul setelah banyak studi yang memperlihatkan bahwa pengaruh media massa ditentukan oleh perilaku selektif masyarakat. Selektivitas yang dimaksud meliputi seleksi terpaan
(selective exposure), pemahaman (selective perception), dan ingatan (selective retention). Lalu muncul pandangan yang berasumsi bahwa masyarakat bukan kelompok pasif (social vacuum) yang berperan sebagai posisi penerima pesan media semata. Pandangan mengenai efek media massa belakangan ini kembali pada anggapan awal bahwa efek media massa dapat berpengaruh kuat
(powerful effect). Namun pengaruh tersebut dapat terjadi bila dalam melakukan tindak komunikasi melalui media massa dipenuhi persyaratan tertentu. Salah satunya nya bila program tersebut dikemas secara baik dengan menggunakan prinsip-prinsip teori komunikasi.

Menjadi semakin menarik memperbincangkan apakah memang sedemikian kuat (powerfull) efek media massa terhadap perilaku individu penikmat televisi? Apakah televisi juga memiliki peran dalam berbagai masalah-masalah sosial yang ada di sekitar kehidupan kita di masyarakat? Lantas apakah mungkin media massa tetap dapat berfungsi sebagai agent of change yang mendidik, menghibur dan informatif bukan sebaliknya sebagai agent of destroyer – institusi pemberi informasi dan hiburan yang tidak edukatif. Menghadapi persoalan ini, sesungguhnya secara substansial sebenarnya media massa saat ini sudah bermasalah. Media massa modern distigmakan sebagai institusi “penghasut”, “pencetus kerusuhan”, “pencetus masalah sosial”, “trigger (penyebab) jiwa-jiwa individu ketakutan, paranoid, dsb nya atas hal-hal yang ada di lingkungan hidupnya.

Media massa sungguh-sungguh ingin menunjukkan kepada masyarakat konsumennya bahwa ia adalah benar-benar replikasi dari masyarakatnya, karena itu media massa juga harus tampil dalam bentuk kekerasan dan sadistis – demikian media massa seolah juga harus punya karakter yang sama dengan kondisi yang ada di masyarakat tersebut, penuh dengan adegan kekerasan dan sadistis yang membuat masyarakat merinding dan mengelus dada. Padahal secara empiris replikasi media massa akan terulang oleh konsumen medianya. Masyarakat mereplikasi informasi media massa dalam proses konstruksi-dekonstruksi. Kekerasan dan sadisme media massa dapat dikonsumsi oleh khlayak baik dari berita (hard news), film horror dan kekerasan ataupun tayangan kriminalitas.

Di industri Indonesia sendiri, dengan 10 televisi nasional swasta tayangan bernuansa kekerasan dan sadistis memperoleh porsi yang tidak sedikit. Program seperti Derap Hukum, Patroli, Tikam, Buser dll mengkonstruksi kekerasan yang ada di masyarakat sedemikian gamblang seolah hal yang lumrah dan biasa. Kekerasan media massa bisa muncul secara fisik maupun verbal bagi media televisi, dari kekerasan kata-kata kasar sampai dengan siaran-siaran rekonstruksi kekerasan seperti yang disebutkan sebelumnya.

Bentuk kekerasan dan sadisme media massa dengan modus yang sama di semua media massa baik cetak maupun elektronika, lebih banyak menonjolkan kengerian dan keseraman daripada tujuan ditayangkannya pemberitaan itu sendiri.

Kejahatan di media terdiri atas beberapa macam, seperti (1) kekerasan terhadap diri sendiri, seperti bunuh diri, meracuni diri sendiri, menyakiti diri sendiri dll; (2) kekerasan kepada orang lain, seperti menganiaya orang lain, membentak orang lain sampai dengan membunuh; (3) kekerasan kolektif, seperti perkelahian misal, komplotan melakukan kejahatan maupun sindikat perampokan; (4) kekerasan dengan skala yang lebih besar, seperti peperangan dan terorisme yang dampaknya memberi rasa ketakutan dan kengerian luar biasa kepada pemirsanya.

Tujuan menonjolkan kengerian dan keseraman di dalam konten hasil produksi media massa tak lain adalah agar media massa dapat membangkitkan emosi pemirsa dan pembaca, emosi tersebut menjadi magnet dengan daya tarik luar biasa untuk membaca atau menonton kembali acara dengan konten yang sama setiap disiarkan. Emosi berupa perasaan empati dan simpati terhadap objek pemberitaan sehingga mendorong pemirsa dan pembaca mencurahkan perhatian lebih terhadap acara tersebut. Bagi media massa elektronik, membangun emosi melalui cara seperti ini merupakan suatu hal yang tidak sulit, karena dengan gambar-gambar yang menyeramkan dan sedikit efek audio visual – emosi masyarakat akan mencapai puncaknya. Secara lebih spesifik produksi media massa seperti tayangan mistis adalah sebuah konstruksi sosial produsen terhadap bentuk-bentuk ”ketakutan/kengerian”. Kenapa tayangan seperti ini diproduksi oleh media massa? Karena ada sebuah demand dari masyarakat – sesuatu yang dibutuhkan, sesuatu budaya, tradisi di masyarakat yang menjadi problem batiniah individu.

Dunia virtual terkonstruksi sedemikian rupa hampir nyaris sempurna seolah segalanya bisa dibawa ke dalam dunia nyata. Film fiksi, laga dll secara skema kognitif merupakan naskah yang ada dalam pikiran kita yang menjelaskan tentang alur peristiwa. Kita tahu bahwa dalam sebuah film laga, yang mempunyai lakon atau aktor/aktris yang sering muncul, pada akhirnya akan menang. Oleh karena itu kita tidak terlalu cemas ketika sang pahlawan jatuh dari jurang. Kita menduga, pasti akan tertolong juga. Bagaimana jika hal tersebut ada di dunia nyata, kita yang merasa orang baik sedang dirampok dan dalam situasi terjepit, apakah juga kita mampu berpikir bahwa kita akan selamat atau akan ada pahlawan super yang datang menolong dan seketika menciptakan perasaan aman dalam diri kita secara instant?

Sebagai ilustrasi lain, ketika bencana Tsunami melanda Tanah Rencong, hampir semua stasiun televisi di Indonesia (maupun dunia) menyiarkan gambar-gambar yang sama, berkali-kali televisi menyiarkan gambar-gambar close up mayat-mayat di selokan, diatas rumah dan sebagainya yang sudah membusuk, sehingga dengan mudah menimbulkan kengerian yang luar biasa bagi pemirsa televisi. Semakin dramatis adegan-adegan yang ditayangkan akan semakin menjadi obyek perbincangan seru di antara individu yang akhirnya obyektivitas konten dari tayangan tersebut menjadi kabur bahkan nyaris hilang baik secara subtansial dan emosional. Konstruksi sosial melalui media massa mampu membangun theater of mind yang pada akhirnya melahirkan jiwa individu yang kerap dirudung rasa tidak aman secara fisik dan non –fisik.

Menurut Teori Agenda setting, media berperan sangat besar dalam mempengaruhi apa yang dipikirkan dan dibicarakan masyarakat. Media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya. Secara selektif, gatekeepers menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang harus disembunyikan (Rakhmat, 2002:228-229). Diperkenalkan oleh McCombs dan Donald Shaw dalam Public Opinion Quarterly, thn 1972 – The Agenda Setting Function of Mass Media; asumsi dasar Teori Agenda Setting:

“…jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa,maka media itu akan mempengaruhi khlayak untuk mengganggapnya penting”

Lebih jauh McCombs & Donald Shaw juga menambahkan, bahwa audience mempelajari seberapa besar arti penting sebuah topik dari cara media memberikan penekanan pada topik tersebut.
Dalam hubungan media massa dan masyarakat dari perspektif fungsional dan struktural sebagai saluran informasi dan hiburan yang edukatif – sebuah obyek dapat menjadi agenda pemberitaan melalui 3(tiga) tahap Agenda Setting yaitu:
1. Media Agenda
Dimana isu didiskusikan dalam media
2. Public Agenda
Ketika isu didiskusikan dan secara pribadi sesuai dengan khalayak
3. Policy Agenda
Pada saat para pembuat kebijaksanaan menyadari pentingnya isu tersebut

Kekerasan dengan skala yang lebih besar di media massa seperti yang dikemukakan sebelumnya, seperti peperangan dan terorisme memberikan efek rasa ketakutan dan kengerian lebih dari biasa kepada pemirsanya. Saat peristiwa Bom Bali di Kuta Bali 12 Oktober 2002 terdapat banyak efek komunikasi antar individu dan interaksi sosial yang dihasilkan dari pemberitaan peristiwa di media massa tersebut. Pemberitaan di media atas peristiwa Bom Bali ini secara makro menjelaskan secara gamblang dimensi pengaruh media kepada masyarakat luas. Teorisme dikaitkan dengan kelompok Islam radikal, istilah “jihad” menjadi kabur dari konteks yang sebenarnya dalam ajaran Islam, dan yang ironisnya kemudian label “teroris” sangat lekat dengan Islam.

Kontruksi media massa baik cetak maupun elektronik atas peristiwa terror Bom Bali 2002 ini begitu banyak rupa sehingga mampu memanipulasi emosi khalayaknya dalam ruang binis kapitalis industri media massa. Dalam bisnis, prinsip “keramat” yang berlaku adalah keluarkan biaya serendah-rendahnya dalam produksi untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Lumrah saja. Hanya, ketika demi bisnis terjadi eksploitasi berlebihan, asas keadilan hilang, sisi perasaan publik terabaikan, dan banyak kelumrahan yang perlu dipertanyakan. Media Massa eletronik, dengan kekuatan pengaruhnya, bisa menjadi alat diplomasi virtual yang sangat efektif ketika menyampaikan pesan. Tak hanya Industri televisi di Indonesia Amerika Serikat, sebagai negara digdaya dunia dan juga negara yang senang perang, menyadari betul ketika CNN mendapat tandingan dari Al-Jazeera, Qatar, dalam Perang Irak. Amerika mulai kehilangan kekuasaan absolutnya dalam membentuk opini dunia ketika Al-Jazeera menyiarkan peristiwa yang sama dengan sudut pandang berbeda.

Televisi tentu tidak hanya penting bagi alat politik, tapi juga budaya. Bayangkan seandainya yang selalu tampil di acara hiburan televisi hanyalah obral seksual, adegan ciuman bibir, pamer paha, pergaulan bebas mengarah pada sikap hedonisme, mistis dan tahyul,. Sudah barang tentu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tayangan-tayangan itu berubah wujud menjadi pola kehidupan nyata. Tindak kriminalitas pemerkosaan, penguguran kandungan karena perilaku seks bebas, narkoba, perkelahian pelajar menjadi head line surat-surat kabar baik dengan tiras besar maupun kecil, dengan segmen pasar eksklusif maupun kacangan.

Masalah-masalah sosial menjadi lebih terangkat ke permukaan karena salah kaprahnya media massa menjalankan fungsinya yang seyogyanya menjadi agent of change dan bukan agent of destroyer, memberikan rasa nyaman dengan produksi media massa yang mendidik dan berkualitas, bukan menciptakan rasa ketakutan yang mengarah pada masalah-masalah sosial tersebut. Inti persoalan-persoalan sosial yang ada di lingkungan kita yang bersinggungan baik langsung maupun tidak langsung dari efek penggunaan media massa adalah bagaimana kita menanggapi hal-hal yang dapat dijadikan indikator terbitnya suatu masalah sosial dan kemudian mengejewantahkan jawaban-jawaban atas masalah-masalah sosial tersebut di dalam sebuah skema inventori fungsional parsial komunikasi massa – baik melalui agenda pemberitaan, pilihan editorial sampai dengan transmisi budaya. Sesungguhnya tidak ada alasan yang rasional untuk membenarkan produksi media massa seperti ilustrasi-ilustrasi di atas bermanfaat bagi masyarakat. Satu-satunya alasan yang mendasari produsen tetep memproduksi tayangan tidak bermutu tersebut adalah tuntutan bisnis semata – rating yang tinggi sudah barang tentu menyedot iklan sebanyak-banyaknya yang menghasilkan keuntungan kepada pemilik media massa.

Perempuan Terpilih

The Priceless

Sungguh bahagia seorang perempuan yang memperoleh kepercayaan besar untuk jadi seorang Bunda.
Sunnguh istimewa ia di hadapan Nya, saat tak pernah sedikit pun ia berkeluh kesah atas amanah yang ia dapat itu.

Dan betapa sungguh ia sangat beruntung, saat kelah semua jerih payah, “masa tanam”, memelihara, menjaga, sampai pada saat waktu “panen” tiba – mereka menjadikan engkau perempuan yang paling bahagia.

Tapi, tak musti lah engkau perempuan yang menjadi Bunda menunggu hari “panen” itu tiba untuk merasa bahagia.

Coba, luangkan 1 detik dari ritme hidupmu, dan lihat lah betapa tampan dan cantiknya mereka. Betapa hari ini banyak kepintaran di sela “kenakalan”, yang mereka suguh kan untuk engkau, Bunda.
Bahagialah Bunda, karena telah menjadi PEREMPUAN TERPILIH

..Ceritakan Semua Dengan Kata-Kata..

Di halaman ini, aku mencoba berbagi semua hal yang ku pelajari, ku nikmati, ku pahami, dan ku tulis menjadi sebuah cerita – dan semuanya dengan kata-kata.

Kata-kata yang ku harap, bisa menjadikan sebuah komunikasi indah dan bermakna.
Selami semua keindahan hidup, ceritakan semua dengan kata-kata.

So, Enjoy It!

Salam Komunika,