Media massa adalah media komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara missal pula. Informasi massa adalah informasi yang diperuntukkan untuk khalayak banyak bukan informasi yang dikonsumsi secara pribadi. Komunikasi Massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.
Bittner (dalam Karlinah, dkk 1999):
“Mass Communication is messages communicated trough a mass medium to a large number of people”
Dengan demikian konsep dasar dari komunikasi massa adalah komunikasi dengan media massa. Media massa merupakan institusi penghubung seluruh kmponen masyarakat melalui produk media massa yang dihasilkan. Dalam penyampaian berbagai produk tayangan, media massa berupaya secara maksimal menyesuaikan dengan heterogonitas khlayaknya dari berbagai sosio-ekonomi, kultural dan lainnya. Produk media pun pada akhirnya dibentuk sedemikian rupa, sehingga mampu diterima oleh banyak orang. Media massa menjadi medium budaya massa yang bersifat hiburan.
Menurut Richard Dyers (During,1993;271-272), hiburan merupakan respons emosi jiwa dan perkembangan implikasi emosi diri, merupakan suatu tanda keinginan manusia yang meronta-ronta ingin ditanggapi dengan memenuhinya. Prinsip yang subtansi dalam hiburan adalah kesenangan yang tertanam dan menjelma dalam kehidupan manusia sehingga pada kesempatan lain akan menjelma menjadi budaya manusia – yang akhirnya kesenangan itu menjadi larut dalam kebutuhan manusia yang lebih besar bahkan menjadi eksistensi kehidupan manusia. Konteks sosial semacam ini lebih cenderung membawa manusia dalam dunia yang serba tiruan, dalam artian kefanaan menjadi sebuah tujuan kongkret dari apa yang diperjuangkan manusia itu sendiri. Dan saat tipuan itu dimanipulasi oleh industri, maka tipuan ini menjadi abadi dalam dunia fana.
Kemajuan teknologi telekomunikasi ini telah membentuk dunia seolah begitu kecil, semua kejadian di belahan dunia manapun terlihat dalam sekejap dihadapan kita. Teknologi modern menjadikan informasi global dapat diperoleh di seluruh dunia; melalui televisi dan internet, dimana menjadikan situasi di dunia luar terbentang di layar kaca.
Media massa secara real telah menjadi salah satu kebutuhan hidup manusia sebagai masyarakat media dibelahan dunia manapun untuk dapat berinteraksi dengan individu masyarakat media lainnya. Seperti yang telah disinggung di awal bahwasanya media massa bernilai hiburan bagi individu, yang secara teoritis juga berfungsi sebagai saluran informasi dan edukasi. Namu kenyataannya media massa memberikan efektif lain di luar fungsinya itu. Efek media massa tidak hanya mempengaruhi sikap seseorang namun juga mempengaruhi perilaku, bahkan pada tatarn yang lebih mendalam efek media massa mempengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat. Efek media mempengaruhi individu dalam kurun waktu pendek dan panjang, ini disebabkan efek media massa dapat terjadi secara sengaja maupun tanpa sengaja dalam penerimaannya di masyarakat.
Denis McQuail (2002:425-426) menjelaskan, bahwa efek media massa memiliki typology yang mana terdiri dari empat bagian yang besar. Pertama efek media merupakan efek yang direncanakan, sebagai sebuah efek yang diharapkan terjadi baik oleh media massa sendiri maupun individu yang menggunakan media massa untuk kepentingan penyebaran informasi. Kedua, efek media massa yang tidak direncanakan atau tidak dapat diperkirakan, sebagai efek yang benar-benar di luar kontrol media, diluar kemampuan media maupun orang lain yang menggunakan media untuk penyebaran informasi melalui media untuk mengontrol terjadinya efek media massa.Jadi, pada efek kedua ini, efek media terjadi dalam kondisi tidak dapt dikontrol. Ketiga, efek media massa terjadi dalam waktu pendek, namun secara cepat, instant, dank eras mempengaruhi individu atau kelompok masyarakat. Keempat, efek media massa berlangsung dalam waktu yang lama, sehingga mempengaruhi sikap-sikap adopsi inovasi, kontrol sosial sampai dengan persoalan-persoalan perubahan budaya.
Dalam perjalanan perkembangan komunikasi, efek media massa sebagai satu medium penyebaran informasi, edukasi maupun hiburan, mengalami perputaran (cycle) dalam teori nya. Khususnya yang berkenaan dengan teori efek media massa televisi. Hingga kini masih banyak pengamat televisi yang begitu yakin mengenai efek pesan televisi. Pesan melalui televisi diyakini berpengaruh langsung terhadap pemirsanya, baik itu kognitif, afektif, maupun behavioral. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang begitu yakin bahwa televisi dapat merusak ideologi suatu bangsa. Keyakinan itu memang ada dasar rujukannya. Awalnya, media massa dipandang berpengaruh kuat. Pengaruhnya langsung terhadap perubahan sikap dan perilaku masyarakat yang pasif dan tidak selektif. Masyarakat demikian dianggap menerima begitu saja setiap rangsangan (pesan) dari media massa. Pandangan berikutnya, pengaruh media massa dianggap terbatas. Anggapan ini muncul setelah banyak studi yang memperlihatkan bahwa pengaruh media massa ditentukan oleh perilaku selektif masyarakat. Selektivitas yang dimaksud meliputi seleksi terpaan
(selective exposure), pemahaman (selective perception), dan ingatan (selective retention). Lalu muncul pandangan yang berasumsi bahwa masyarakat bukan kelompok pasif (social vacuum) yang berperan sebagai posisi penerima pesan media semata. Pandangan mengenai efek media massa belakangan ini kembali pada anggapan awal bahwa efek media massa dapat berpengaruh kuat
(powerful effect). Namun pengaruh tersebut dapat terjadi bila dalam melakukan tindak komunikasi melalui media massa dipenuhi persyaratan tertentu. Salah satunya nya bila program tersebut dikemas secara baik dengan menggunakan prinsip-prinsip teori komunikasi.
Menjadi semakin menarik memperbincangkan apakah memang sedemikian kuat (powerfull) efek media massa terhadap perilaku individu penikmat televisi? Apakah televisi juga memiliki peran dalam berbagai masalah-masalah sosial yang ada di sekitar kehidupan kita di masyarakat? Lantas apakah mungkin media massa tetap dapat berfungsi sebagai agent of change yang mendidik, menghibur dan informatif bukan sebaliknya sebagai agent of destroyer – institusi pemberi informasi dan hiburan yang tidak edukatif. Menghadapi persoalan ini, sesungguhnya secara substansial sebenarnya media massa saat ini sudah bermasalah. Media massa modern distigmakan sebagai institusi “penghasut”, “pencetus kerusuhan”, “pencetus masalah sosial”, “trigger (penyebab) jiwa-jiwa individu ketakutan, paranoid, dsb nya atas hal-hal yang ada di lingkungan hidupnya.
Media massa sungguh-sungguh ingin menunjukkan kepada masyarakat konsumennya bahwa ia adalah benar-benar replikasi dari masyarakatnya, karena itu media massa juga harus tampil dalam bentuk kekerasan dan sadistis – demikian media massa seolah juga harus punya karakter yang sama dengan kondisi yang ada di masyarakat tersebut, penuh dengan adegan kekerasan dan sadistis yang membuat masyarakat merinding dan mengelus dada. Padahal secara empiris replikasi media massa akan terulang oleh konsumen medianya. Masyarakat mereplikasi informasi media massa dalam proses konstruksi-dekonstruksi. Kekerasan dan sadisme media massa dapat dikonsumsi oleh khlayak baik dari berita (hard news), film horror dan kekerasan ataupun tayangan kriminalitas.
Di industri Indonesia sendiri, dengan 10 televisi nasional swasta tayangan bernuansa kekerasan dan sadistis memperoleh porsi yang tidak sedikit. Program seperti Derap Hukum, Patroli, Tikam, Buser dll mengkonstruksi kekerasan yang ada di masyarakat sedemikian gamblang seolah hal yang lumrah dan biasa. Kekerasan media massa bisa muncul secara fisik maupun verbal bagi media televisi, dari kekerasan kata-kata kasar sampai dengan siaran-siaran rekonstruksi kekerasan seperti yang disebutkan sebelumnya.
Bentuk kekerasan dan sadisme media massa dengan modus yang sama di semua media massa baik cetak maupun elektronika, lebih banyak menonjolkan kengerian dan keseraman daripada tujuan ditayangkannya pemberitaan itu sendiri.
Kejahatan di media terdiri atas beberapa macam, seperti (1) kekerasan terhadap diri sendiri, seperti bunuh diri, meracuni diri sendiri, menyakiti diri sendiri dll; (2) kekerasan kepada orang lain, seperti menganiaya orang lain, membentak orang lain sampai dengan membunuh; (3) kekerasan kolektif, seperti perkelahian misal, komplotan melakukan kejahatan maupun sindikat perampokan; (4) kekerasan dengan skala yang lebih besar, seperti peperangan dan terorisme yang dampaknya memberi rasa ketakutan dan kengerian luar biasa kepada pemirsanya.
Tujuan menonjolkan kengerian dan keseraman di dalam konten hasil produksi media massa tak lain adalah agar media massa dapat membangkitkan emosi pemirsa dan pembaca, emosi tersebut menjadi magnet dengan daya tarik luar biasa untuk membaca atau menonton kembali acara dengan konten yang sama setiap disiarkan. Emosi berupa perasaan empati dan simpati terhadap objek pemberitaan sehingga mendorong pemirsa dan pembaca mencurahkan perhatian lebih terhadap acara tersebut. Bagi media massa elektronik, membangun emosi melalui cara seperti ini merupakan suatu hal yang tidak sulit, karena dengan gambar-gambar yang menyeramkan dan sedikit efek audio visual – emosi masyarakat akan mencapai puncaknya. Secara lebih spesifik produksi media massa seperti tayangan mistis adalah sebuah konstruksi sosial produsen terhadap bentuk-bentuk ”ketakutan/kengerian”. Kenapa tayangan seperti ini diproduksi oleh media massa? Karena ada sebuah demand dari masyarakat – sesuatu yang dibutuhkan, sesuatu budaya, tradisi di masyarakat yang menjadi problem batiniah individu.
Dunia virtual terkonstruksi sedemikian rupa hampir nyaris sempurna seolah segalanya bisa dibawa ke dalam dunia nyata. Film fiksi, laga dll secara skema kognitif merupakan naskah yang ada dalam pikiran kita yang menjelaskan tentang alur peristiwa. Kita tahu bahwa dalam sebuah film laga, yang mempunyai lakon atau aktor/aktris yang sering muncul, pada akhirnya akan menang. Oleh karena itu kita tidak terlalu cemas ketika sang pahlawan jatuh dari jurang. Kita menduga, pasti akan tertolong juga. Bagaimana jika hal tersebut ada di dunia nyata, kita yang merasa orang baik sedang dirampok dan dalam situasi terjepit, apakah juga kita mampu berpikir bahwa kita akan selamat atau akan ada pahlawan super yang datang menolong dan seketika menciptakan perasaan aman dalam diri kita secara instant?
Sebagai ilustrasi lain, ketika bencana Tsunami melanda Tanah Rencong, hampir semua stasiun televisi di Indonesia (maupun dunia) menyiarkan gambar-gambar yang sama, berkali-kali televisi menyiarkan gambar-gambar close up mayat-mayat di selokan, diatas rumah dan sebagainya yang sudah membusuk, sehingga dengan mudah menimbulkan kengerian yang luar biasa bagi pemirsa televisi. Semakin dramatis adegan-adegan yang ditayangkan akan semakin menjadi obyek perbincangan seru di antara individu yang akhirnya obyektivitas konten dari tayangan tersebut menjadi kabur bahkan nyaris hilang baik secara subtansial dan emosional. Konstruksi sosial melalui media massa mampu membangun theater of mind yang pada akhirnya melahirkan jiwa individu yang kerap dirudung rasa tidak aman secara fisik dan non –fisik.
Menurut Teori Agenda setting, media berperan sangat besar dalam mempengaruhi apa yang dipikirkan dan dibicarakan masyarakat. Media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya. Secara selektif, gatekeepers menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang harus disembunyikan (Rakhmat, 2002:228-229). Diperkenalkan oleh McCombs dan Donald Shaw dalam Public Opinion Quarterly, thn 1972 – The Agenda Setting Function of Mass Media; asumsi dasar Teori Agenda Setting:
“…jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa,maka media itu akan mempengaruhi khlayak untuk mengganggapnya penting”
Lebih jauh McCombs & Donald Shaw juga menambahkan, bahwa audience mempelajari seberapa besar arti penting sebuah topik dari cara media memberikan penekanan pada topik tersebut.
Dalam hubungan media massa dan masyarakat dari perspektif fungsional dan struktural sebagai saluran informasi dan hiburan yang edukatif – sebuah obyek dapat menjadi agenda pemberitaan melalui 3(tiga) tahap Agenda Setting yaitu:
1. Media Agenda
Dimana isu didiskusikan dalam media
2. Public Agenda
Ketika isu didiskusikan dan secara pribadi sesuai dengan khalayak
3. Policy Agenda
Pada saat para pembuat kebijaksanaan menyadari pentingnya isu tersebut
Kekerasan dengan skala yang lebih besar di media massa seperti yang dikemukakan sebelumnya, seperti peperangan dan terorisme memberikan efek rasa ketakutan dan kengerian lebih dari biasa kepada pemirsanya. Saat peristiwa Bom Bali di Kuta Bali 12 Oktober 2002 terdapat banyak efek komunikasi antar individu dan interaksi sosial yang dihasilkan dari pemberitaan peristiwa di media massa tersebut. Pemberitaan di media atas peristiwa Bom Bali ini secara makro menjelaskan secara gamblang dimensi pengaruh media kepada masyarakat luas. Teorisme dikaitkan dengan kelompok Islam radikal, istilah “jihad” menjadi kabur dari konteks yang sebenarnya dalam ajaran Islam, dan yang ironisnya kemudian label “teroris” sangat lekat dengan Islam.
Kontruksi media massa baik cetak maupun elektronik atas peristiwa terror Bom Bali 2002 ini begitu banyak rupa sehingga mampu memanipulasi emosi khalayaknya dalam ruang binis kapitalis industri media massa. Dalam bisnis, prinsip “keramat” yang berlaku adalah keluarkan biaya serendah-rendahnya dalam produksi untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Lumrah saja. Hanya, ketika demi bisnis terjadi eksploitasi berlebihan, asas keadilan hilang, sisi perasaan publik terabaikan, dan banyak kelumrahan yang perlu dipertanyakan. Media Massa eletronik, dengan kekuatan pengaruhnya, bisa menjadi alat diplomasi virtual yang sangat efektif ketika menyampaikan pesan. Tak hanya Industri televisi di Indonesia Amerika Serikat, sebagai negara digdaya dunia dan juga negara yang senang perang, menyadari betul ketika CNN mendapat tandingan dari Al-Jazeera, Qatar, dalam Perang Irak. Amerika mulai kehilangan kekuasaan absolutnya dalam membentuk opini dunia ketika Al-Jazeera menyiarkan peristiwa yang sama dengan sudut pandang berbeda.
Televisi tentu tidak hanya penting bagi alat politik, tapi juga budaya. Bayangkan seandainya yang selalu tampil di acara hiburan televisi hanyalah obral seksual, adegan ciuman bibir, pamer paha, pergaulan bebas mengarah pada sikap hedonisme, mistis dan tahyul,. Sudah barang tentu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tayangan-tayangan itu berubah wujud menjadi pola kehidupan nyata. Tindak kriminalitas pemerkosaan, penguguran kandungan karena perilaku seks bebas, narkoba, perkelahian pelajar menjadi head line surat-surat kabar baik dengan tiras besar maupun kecil, dengan segmen pasar eksklusif maupun kacangan.
Masalah-masalah sosial menjadi lebih terangkat ke permukaan karena salah kaprahnya media massa menjalankan fungsinya yang seyogyanya menjadi agent of change dan bukan agent of destroyer, memberikan rasa nyaman dengan produksi media massa yang mendidik dan berkualitas, bukan menciptakan rasa ketakutan yang mengarah pada masalah-masalah sosial tersebut. Inti persoalan-persoalan sosial yang ada di lingkungan kita yang bersinggungan baik langsung maupun tidak langsung dari efek penggunaan media massa adalah bagaimana kita menanggapi hal-hal yang dapat dijadikan indikator terbitnya suatu masalah sosial dan kemudian mengejewantahkan jawaban-jawaban atas masalah-masalah sosial tersebut di dalam sebuah skema inventori fungsional parsial komunikasi massa – baik melalui agenda pemberitaan, pilihan editorial sampai dengan transmisi budaya. Sesungguhnya tidak ada alasan yang rasional untuk membenarkan produksi media massa seperti ilustrasi-ilustrasi di atas bermanfaat bagi masyarakat. Satu-satunya alasan yang mendasari produsen tetep memproduksi tayangan tidak bermutu tersebut adalah tuntutan bisnis semata – rating yang tinggi sudah barang tentu menyedot iklan sebanyak-banyaknya yang menghasilkan keuntungan kepada pemilik media massa.