Theodornoson dan Theodonorson (1969) memberi batasan lingkup communication berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikap-sikap atau emosi dari seorang kelompok kepada yang lain (atau lain-lainnya) terutama melalui simbol-simbol. Garbner (1967) mengatakan communication dapat didefinisikan sebagai social interaction melalui pesan-pesan (McQuail dan Windahl,tt:4)
Pada pembahasan ini, fokus yang menjadi issues adalah Media Televisi dengan tinjauan Televisi dan Masyarakat, yang di kaji dari beberapa perspektif. Pelbagai pendekatan kritis terhadap televisi, dalam beberapa hal dibentuk oleh persepsi tentang medium, dan karenanya bersifat partikular. Pendekatan ini juga merupakan sebuah acuan umum dalam studi media yang sudah barang tentu dalam pelbagai ungkapan terkait dengan budaya dan masyarakat. Beberapa studi komunikasi membahas adanya kekuatan dan pengaruh televisi, yang melebihi kekuatan dan pengaruh media lain.
Televisi umumnya dipahami dalam interaksinya dengan pemirsa. Lebih dalam kita dapat memulainya dari ketersediaan dan aksesibilitas penuh terhadap keberadaan televisi di rumah; dengan volume pemprograman, dengan silih bergantinya khalayak selama sehari. Pemirsaan digambarkan sebagai kesenangan. Skala interaksi antara produk dan khlayak berbanding lurus dengan kesenangan (hiburan) yang diperoleh di dalam mengkonsumsi program-program televisi tersebut.
Media televisi pada perkembangan nya lebih cenderung menjadi medium yang berfokus pada sisi ekonomi ketimbang ekudasi sebagaimana seyogyanya televisi dalam peran utamanya. Sebuah Stasiun Televisi di era globalisasi seperti saat ini, mampu menghidupi dirinya dengan jenis-jenis program seperti: serial, sport, news, infotainment dll
Program yang berlabel “Silat Lidah” ini merupakan sebuah program Talk Show dengan “gaya “ baru – yang di claim oleh pembuat program sebagai Program Talk Show bernuansa beda dari Talk Show kebanyakan. Inti dari program Talk Show ini adalah mengangkat issues-issues ringan, terkadang issues yang controversial – umumnya berhubungan dengan cara hidup, gaya hidup orang-orang kota yang melabelkan diri sebagai “Kaum Metropolis”
Nama Program : Silat Lidah
Stasiun Televisi : ANTV
Jenis Program : Talk Show
Deskripsi Program:
Silat Lidah merupakan program baru di ANTV dengan jenis program Talk Show. Dengan host seorang Pria yang di positioning kan sebagai figur pria metropolis – pleasure seekers, trendy, metro-sexual, percaya diri tinggi. Dalam Talk Show ini, gaya baru yang ditampilkan adalah bagaimana program ini menghadirkan enam panelis tetap yang kesemuanya adalah perempuan – dengan figur perempuan mandiri, cantik, sukses di karirnya. Public-public figure yang berprofesi artis, bintang sinetron,model, penulis, news caster dan juga ada pelaku seni theater ini menambah semarak Talk Show Silat Lidah ini diakui sebagai Program Talk Show yang “ramai” dan lebih greget dari yang biasa. Talk Show yang ditayangkan setiap Selasa & Kamis, Pukul 22.00 – 23.00 ini secara gamblang, terbuka (open mind) dalam membahas topik-topik yang diangkat sebagai issues.
Seperti setiap program tayangan lainnya- Silat Lidah sebagai Program Talk Show memiliki efek postif dan efek negatif terhadap pemirsa. Dalam kajian berikut efek negatif tayangan Talk Show ini yang akan dikaji secara lebih mendalam. Sebagai contoh diambil penayangan tanggal 2 Oktober 2007 dengan topik “ Selingkuh dengan Saudara Tiri”
Tayangan Talk Show ini selalu diawali dengan pembacaan surat dari pemirsa melalui email oleh Host – Irwan, di mana setelah surat dibacakan “issues” yang dibacakan tersebut di lempar kepada para panelis untuk dikomentari. Kemudian, akan ada sebuah sambungan telepon dari pemirsa yang juga memiliki persoalan yang sama, menceritakan secara langsung permasalahan yang dimilikinya dan menunggu komentar-komentar dari para panelis. Jawaban-jawaban yang diberikan, tidak selalu sependapat antara satu panelis dengan panelis yang lain- terkadang diantara panelis pun terjadi perdebatan untuk mempertahankan opini/pendapat. Masing-masing penelis berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, status perkawinan yang berbeda, juga usia yang berbeda. Secara psikologi komunikasi hal-hal tersebut mempengaruhi cara mereka berkomunikasi mengeluarkan pendapat – sebuah konsep diri yang tertuang dalam opini; contoh dari enam panelis dua diantaranya yang dapat di komparasikan memiliki konsep diri yang berlawanan adalah Ria Irawan yang berprofesi artis, sempat hidup di lingkungan budaya barat, cenderung lebih terbuka (open minded), blak-blakan dalam berpendapat, sementara Ratna Sarumpaet, pelaku Teater yang berusia di pertengahan 50 tahun, biasanya menjawab lebih bergaya menasihati, bijak layaknya seorang perempuan yang beranak cucu, dengan pemikiran-pemikiran konvensional.
Lebih jauh Progam Talk Show ini akan dibahas (analyze) dari sudut pandang Ilmu Komunikasi, khususnya Sosiologi Media Komunikasi dengan mengkaji dari perspektif berikut:
Perspektif Fungsi Media
Perspektif Hubungan Media dan Masyarakat
Sistem Sosial Media
Efek Sosial
III. Analisis Program (Produk)
3.1.1 Perspektif Fungsionalisme Struktural (Fungsi Media bagi Masyarakat)
Marshall McLuhan menyebutkan bahwa era yang kita lakoni saat ini sebagai “lingkungan global” (global village). Media komunikasi modern memungkinkan berjuta-juta orang di seluruh dunia dapat saling berhubungan. Seperti yang telah disinggung pada awal kajian- bahwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembahasan komunikasi massa adalah media massa. Secara makro, teori-teori komunikasi massa menyoroti hubungan dan fungsi media bagi masyarakat dan pengaruh timbal balik antara struktur masyrakat dengan media tersebut. Fungsi media massa bagi masyarakat – digambarkan dalam Tabel Inventori Fungsional Parsial Komunikasi Massa sebagai berikut:
AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA PENGAWASAN (INFORMASI/ BERITA)
peringatan bahaya alam, perang, berita penting bagi ekonomi, dll AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA KORELASI (PILIHAN EDITORIAL, INTERPRETASI, PETUNJUK)
memberikan efisiensi, mengasimilasi berita dll
AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA TRANSMISI BUDAYA meningkatkan kohesi sosial, mempertahankan konsensus budaya,membantu integrasi penghadapan pada norma-norma yang umum,dll AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA HIBURAN
pelepas ketegangan bagi publik, mengalihkan perhatian publik, meredakan ketengan sosial, dll
3.1.1 Aktifitas Komunikasi Massa Sebagai Hiburan
Pada program Silat Lidah aktifitas yang dikomunikasikan kepada massa berupa hiburan – dimana hal ini merupakan gagasan ihwal kesenangan yang kerap dihubungkan dengan televisi sebagai media hiburan. Contoh pendekatan ini berkenaan dengan kesenangan menonton yang bersifat sinematik. Namun tidak seperti film yang hampir isi keseluruhannya adalah fiksi, televisi memasukkan proporsi produk faktual yang cukup besar. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “hiburan”? Pemirsa dapat mengalihkan perhatian dari topik-topik politik, ekonomi ataupun ketegangan sosial lainnya dengan menonton program Bincang Ringan (= Silat Lidah, Oprah, Dorce Show, Tukul dll) atau pun menikmati sinetron sebagai “hiburan” – namun bagaimanapun pembagian program televisi saat ini antara program faktual (yang bukan kontruksi media) dan fiksional teramat kabur. Bahkan program bincang-bincang pun bisa jadi telah melewati tahapan make over / dramatisasi – yang menandai bahwa kebanyakan suatu program dibuat tak lebih untuk memenuhi sifat ekonomi nya saja (John Hartley (1992) berpendapat bahwa televisi hanyalah usaha kapitalis, sumber kesenangan yang populer).
Hingga taraf tertentu, pada umumnya keakraban yang menyenangkan ketika menonton televisi adalah kesenangan khusus berhubungan dengan familiaritas program atau tokoh yang terkait dengan program. Pengakuan membawa keamanan. Kebiasaan menonton merupakan upaya untuk memperoleh rasa aman, terlepas dari kesenangan untuk terlibat kembali dengan topik pokok persoalan yang bisa kita sepakati dan tokoh yang kita anggap menarik untuk alasan-alasan lainnya. Tidak ada sesuatu yang begitu efektif membuka percakapan antara dua individu, melainkan bercakap tentang program televisi yang ditonton (tidak terlalu penting apakah isi program berkualitas atau “kacangan”), sedikitnya beberapa program telah menjadi pangalaman sosial dan budaya yang umum. Keterlibatan di dalam program juga membawa kesenangan yang membawa kita untuk menaruh perhatian pada kualitas pemirsaan yang bersifat aktif – program interaktif menjadikan makna tidak sekedar diserap melalui mata; makna juga dibangun dalam benak. Keterlibatan yang umum, termasuk berbicara dengan partisipan program (on air) atau bercakap dengan pemirsa lain pada saat program berlangsung atau mencoba memberikan solusi bagi suatu permasalahan, menjadi bagian yang menghibur dari sebuah produk televisi.
Pada Program Talk Show ANTV “Silat Lidah” – pemilihan judul program sedikit banyak memberikan gambaran kepada pemirsa seperti apakah karakteristik program berdurasi 1 jam ini sebagai sebuah genre yang menayangkan aktifitas program bincang (percakapan) yang mengarah pada perdebatan, yang memancing perhatian pemirsa untuk menontonnya. Sebagaimana dalam karakteristik sekuen judul sebuah produk, disebutkan beberapa dimensi pembuatan Judul sebuah Produk Media sebagai berikut:
Peralihan yang diisyaratkan: menarik perhatian (Identitas Program)
Narasi yang menyusul ketinggalan (continuities setting)
Karakter yang menentukan
Mood Setting judul menghasilkan suatu respon emosional
Referensialitas symbol, ikon, peribahasa, referensi intertekstual
Dari kelima dimensi pembuatan sebuah judul program – “Silat Lidah” telah memenuhi beberapa karakteristik yang menjadi dimensi sebuah judul program hiburan; di mana judul cukup menarik ketertarikan pemirsa untuk mencari tahu lebih jauh content program tersebut, adanya karakter yang menentukan (dipasang nya beberapa public figure yang memiliki value; cerdas, cantik, sukses), mood setting – respon emosional dari judul yang dilabelkan sebagai cara berbicara dengan pemirsa.
3.1.2 Aktifitas Komunikasi Massa sebagai Transmisi Budaya
Kehidupan masyarakat kota pada umumnya satu sama lain tidak saling mengenal dan interaksi-interaksi mereka didasari oleh kepentingan dan kebutuhan yang dilandasi pada hubungan sekunder, sehingga secara real media massa telah menjadi salah satu kebutuhan dalam berinteraksi di dalam masyarakat perkotaan satu dengan lainnya. Seperti yang telah disinggung di awal- bahwa sebuah produk media massa dibuat tidak lagi dibuat hanya sebagai pemenuhan kebutuhan publik atas eksistensi media massa sebagai media informasi, namun juga telah sarat dengan muatan ekonomis (komersial) yang harus dikejar mengingat media massa (televisi) adalah industri yang membutuhkan dana besar melalui iklan. Kebanyakan produk televisi saat ini merupakan produk budaya massa- yaitu:
Produk yang dihasilkan karena tuntutan industri kepada produser untuk menelurkan program-program yang banyak dalam waktu singkat –sehingga tak ada lagi waktu bagi produser untuk membuat suatu produk yang ideal
Massa budaya cenderung latah menyulap atau meniru segala sesuatu yang sedang naik daun atau laris, sehingga konsep follower ini berseberangan dengan idialisme pembuatan sebuah produk yang bermuatan positif sebagaimana mestinya (= program yang dibuat dengan konsep serius (biasanya yang bernuansa politik, ekonomi, kebangsaan dll), terkadang membuat “ngeri” pemasang iklan untuk membeli ruang iklan yang ditawarkan)
Budaya Massa cenderung dipengaruhi budaya popular – pemikiran budaya popular menurut Ben Agger (1992;24) dapat dikelompokkan diantaranya; (a) budaya dibangun berdasarkan kesenangan namun tidak substansial dan mengentaskan orang dari kejenuhan kerja sepanjang hari; (b) Kebudayaan popular menghancurkan kebudayaan tradisional;
Sebuah budaya yang akan memasuki dunia hiburan, maka umumnya menempatkan unsur popular sebagai unsur utamanya. Dan budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai by pass penyebaran pengaruh di masyarakat. Mengekspresikan budaya dominant dan mengakui keberadaan kebudayaan khusus (subculture) serta perkembangan budaya baru.
Pada program “Silat Lidah” unsur budaya popular demikian kental mewarnai content/ isi program. Dengan icon-icon public figure yang identik dengan budaya modern; contoh: Julia Perez – salah satu panelis “Silat Lidah” foto model internasional, icon Majalah Play Boy Eropa, menikah dengan pria berkebangsaan Perancis dengan status pernikahan yang “menggantung”; cenderung selalu beropini yang jauh dari sifat konservatif.
Kebudayaan popular lebih banyak berpengaruh pada kelompok orang muda dan menjadi pusat ideologi masyarakat dan kebudayaan, meski budaya popular terus menjadi kontradiksi dan perdebatan – sebagai yang merusak kebudayaan tradisional.
Proses reproduksi juga terjadi pada saat budaya hiburan mampu mereproduksi tatanan baru dalam interaksi individu dan keluarga di masyarakat. Seperti pada salah satu topik yang diangkat menjadi issue pada tayangan Silat Lidah berjudul “ Selingkuh dengan Saudara Tiri” – produser mereproduksi hubungan perselingkuhan sebagai bagian yang dulu ditolak masyarakat, menjadi hal yang samara-samar atau malahan hal yang biasa. Reproduksi semacam ini semakin membiaskan kaidah dasar tentang kesalahan dan kebenaran, seolah kemerdekaan pribadi menjadi ukuran utama dan dalam dunia postmodern ukuran ini semakin tidak jelas.