Arsip Bulanan: Februari 2009

Komunikasi dan Sosiologi Komunikasi

Theodornoson dan Theodonorson (1969) memberi batasan lingkup communication berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikap-sikap atau emosi dari seorang kelompok kepada yang lain (atau lain-lainnya) terutama melalui simbol-simbol. Garbner (1967) mengatakan communication dapat didefinisikan sebagai social interaction melalui pesan-pesan (McQuail dan Windahl,tt:4)

Pada pembahasan ini, fokus yang menjadi issues adalah Media Televisi dengan tinjauan Televisi dan Masyarakat, yang di kaji dari beberapa perspektif. Pelbagai pendekatan kritis terhadap televisi, dalam beberapa hal dibentuk oleh persepsi tentang medium, dan karenanya bersifat partikular. Pendekatan ini juga merupakan sebuah acuan umum dalam studi media yang sudah barang tentu dalam pelbagai ungkapan terkait dengan budaya dan masyarakat. Beberapa studi komunikasi membahas adanya kekuatan dan pengaruh televisi, yang melebihi kekuatan dan pengaruh media lain.
Televisi umumnya dipahami dalam interaksinya dengan pemirsa. Lebih dalam kita dapat memulainya dari ketersediaan dan aksesibilitas penuh terhadap keberadaan televisi di rumah; dengan volume pemprograman, dengan silih bergantinya khalayak selama sehari. Pemirsaan digambarkan sebagai kesenangan. Skala interaksi antara produk dan khlayak berbanding lurus dengan kesenangan (hiburan) yang diperoleh di dalam mengkonsumsi program-program televisi tersebut.

Media televisi pada perkembangan nya lebih cenderung menjadi medium yang berfokus pada sisi ekonomi ketimbang ekudasi sebagaimana seyogyanya televisi dalam peran utamanya. Sebuah Stasiun Televisi di era globalisasi seperti saat ini, mampu menghidupi dirinya dengan jenis-jenis program seperti: serial, sport, news, infotainment dll
Program yang berlabel “Silat Lidah” ini merupakan sebuah program Talk Show dengan “gaya “ baru – yang di claim oleh pembuat program sebagai Program Talk Show bernuansa beda dari Talk Show kebanyakan. Inti dari program Talk Show ini adalah mengangkat issues-issues ringan, terkadang issues yang controversial – umumnya berhubungan dengan cara hidup, gaya hidup orang-orang kota yang melabelkan diri sebagai “Kaum Metropolis”
Nama Program : Silat Lidah
Stasiun Televisi : ANTV
Jenis Program : Talk Show
Deskripsi Program:
Silat Lidah merupakan program baru di ANTV dengan jenis program Talk Show. Dengan host seorang Pria yang di positioning kan sebagai figur pria metropolis – pleasure seekers, trendy, metro-sexual, percaya diri tinggi. Dalam Talk Show ini, gaya baru yang ditampilkan adalah bagaimana program ini menghadirkan enam panelis tetap yang kesemuanya adalah perempuan – dengan figur perempuan mandiri, cantik, sukses di karirnya. Public-public figure yang berprofesi artis, bintang sinetron,model, penulis, news caster dan juga ada pelaku seni theater ini menambah semarak Talk Show Silat Lidah ini diakui sebagai Program Talk Show yang “ramai” dan lebih greget dari yang biasa. Talk Show yang ditayangkan setiap Selasa & Kamis, Pukul 22.00 – 23.00 ini secara gamblang, terbuka (open mind) dalam membahas topik-topik yang diangkat sebagai issues.
Seperti setiap program tayangan lainnya- Silat Lidah sebagai Program Talk Show memiliki efek postif dan efek negatif terhadap pemirsa. Dalam kajian berikut efek negatif tayangan Talk Show ini yang akan dikaji secara lebih mendalam. Sebagai contoh diambil penayangan tanggal 2 Oktober 2007 dengan topik “ Selingkuh dengan Saudara Tiri”
Tayangan Talk Show ini selalu diawali dengan pembacaan surat dari pemirsa melalui email oleh Host – Irwan, di mana setelah surat dibacakan “issues” yang dibacakan tersebut di lempar kepada para panelis untuk dikomentari. Kemudian, akan ada sebuah sambungan telepon dari pemirsa yang juga memiliki persoalan yang sama, menceritakan secara langsung permasalahan yang dimilikinya dan menunggu komentar-komentar dari para panelis. Jawaban-jawaban yang diberikan, tidak selalu sependapat antara satu panelis dengan panelis yang lain- terkadang diantara panelis pun terjadi perdebatan untuk mempertahankan opini/pendapat. Masing-masing penelis berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, status perkawinan yang berbeda, juga usia yang berbeda. Secara psikologi komunikasi hal-hal tersebut mempengaruhi cara mereka berkomunikasi mengeluarkan pendapat – sebuah konsep diri yang tertuang dalam opini; contoh dari enam panelis dua diantaranya yang dapat di komparasikan memiliki konsep diri yang berlawanan adalah Ria Irawan yang berprofesi artis, sempat hidup di lingkungan budaya barat, cenderung lebih terbuka (open minded), blak-blakan dalam berpendapat, sementara Ratna Sarumpaet, pelaku Teater yang berusia di pertengahan 50 tahun, biasanya menjawab lebih bergaya menasihati, bijak layaknya seorang perempuan yang beranak cucu, dengan pemikiran-pemikiran konvensional.
Lebih jauh Progam Talk Show ini akan dibahas (analyze) dari sudut pandang Ilmu Komunikasi, khususnya Sosiologi Media Komunikasi dengan mengkaji dari perspektif berikut:
 Perspektif Fungsi Media
 Perspektif Hubungan Media dan Masyarakat
 Sistem Sosial Media
 Efek Sosial

III. Analisis Program (Produk)
3.1.1 Perspektif Fungsionalisme Struktural (Fungsi Media bagi Masyarakat)
Marshall McLuhan menyebutkan bahwa era yang kita lakoni saat ini sebagai “lingkungan global” (global village). Media komunikasi modern memungkinkan berjuta-juta orang di seluruh dunia dapat saling berhubungan. Seperti yang telah disinggung pada awal kajian- bahwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembahasan komunikasi massa adalah media massa. Secara makro, teori-teori komunikasi massa menyoroti hubungan dan fungsi media bagi masyarakat dan pengaruh timbal balik antara struktur masyrakat dengan media tersebut. Fungsi media massa bagi masyarakat – digambarkan dalam Tabel Inventori Fungsional Parsial Komunikasi Massa sebagai berikut:
AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA PENGAWASAN (INFORMASI/ BERITA)
 peringatan bahaya alam, perang, berita penting bagi ekonomi, dll AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA KORELASI (PILIHAN EDITORIAL, INTERPRETASI, PETUNJUK)
 memberikan efisiensi, mengasimilasi berita dll
AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA TRANSMISI BUDAYA meningkatkan kohesi sosial, mempertahankan konsensus budaya,membantu integrasi penghadapan pada norma-norma yang umum,dll AKTIFITAS YANG DIKOMUNIKASIKAN KEPADA MASSA BERUPA HIBURAN
 pelepas ketegangan bagi publik, mengalihkan perhatian publik, meredakan ketengan sosial, dll

3.1.1 Aktifitas Komunikasi Massa Sebagai Hiburan
Pada program Silat Lidah aktifitas yang dikomunikasikan kepada massa berupa hiburan – dimana hal ini merupakan gagasan ihwal kesenangan yang kerap dihubungkan dengan televisi sebagai media hiburan. Contoh pendekatan ini berkenaan dengan kesenangan menonton yang bersifat sinematik. Namun tidak seperti film yang hampir isi keseluruhannya adalah fiksi, televisi memasukkan proporsi produk faktual yang cukup besar. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “hiburan”? Pemirsa dapat mengalihkan perhatian dari topik-topik politik, ekonomi ataupun ketegangan sosial lainnya dengan menonton program Bincang Ringan (= Silat Lidah, Oprah, Dorce Show, Tukul dll) atau pun menikmati sinetron sebagai “hiburan” – namun bagaimanapun pembagian program televisi saat ini antara program faktual (yang bukan kontruksi media) dan fiksional teramat kabur. Bahkan program bincang-bincang pun bisa jadi telah melewati tahapan make over / dramatisasi – yang menandai bahwa kebanyakan suatu program dibuat tak lebih untuk memenuhi sifat ekonomi nya saja (John Hartley (1992) berpendapat bahwa televisi hanyalah usaha kapitalis, sumber kesenangan yang populer).
Hingga taraf tertentu, pada umumnya keakraban yang menyenangkan ketika menonton televisi adalah kesenangan khusus berhubungan dengan familiaritas program atau tokoh yang terkait dengan program. Pengakuan membawa keamanan. Kebiasaan menonton merupakan upaya untuk memperoleh rasa aman, terlepas dari kesenangan untuk terlibat kembali dengan topik pokok persoalan yang bisa kita sepakati dan tokoh yang kita anggap menarik untuk alasan-alasan lainnya. Tidak ada sesuatu yang begitu efektif membuka percakapan antara dua individu, melainkan bercakap tentang program televisi yang ditonton (tidak terlalu penting apakah isi program berkualitas atau “kacangan”), sedikitnya beberapa program telah menjadi pangalaman sosial dan budaya yang umum. Keterlibatan di dalam program juga membawa kesenangan yang membawa kita untuk menaruh perhatian pada kualitas pemirsaan yang bersifat aktif – program interaktif menjadikan makna tidak sekedar diserap melalui mata; makna juga dibangun dalam benak. Keterlibatan yang umum, termasuk berbicara dengan partisipan program (on air) atau bercakap dengan pemirsa lain pada saat program berlangsung atau mencoba memberikan solusi bagi suatu permasalahan, menjadi bagian yang menghibur dari sebuah produk televisi.
Pada Program Talk Show ANTV “Silat Lidah” – pemilihan judul program sedikit banyak memberikan gambaran kepada pemirsa seperti apakah karakteristik program berdurasi 1 jam ini sebagai sebuah genre yang menayangkan aktifitas program bincang (percakapan) yang mengarah pada perdebatan, yang memancing perhatian pemirsa untuk menontonnya. Sebagaimana dalam karakteristik sekuen judul sebuah produk, disebutkan beberapa dimensi pembuatan Judul sebuah Produk Media sebagai berikut:
 Peralihan yang diisyaratkan: menarik perhatian (Identitas Program)
 Narasi yang menyusul ketinggalan (continuities setting)
 Karakter yang menentukan
 Mood Setting  judul menghasilkan suatu respon emosional
 Referensialitas  symbol, ikon, peribahasa, referensi intertekstual
Dari kelima dimensi pembuatan sebuah judul program – “Silat Lidah” telah memenuhi beberapa karakteristik yang menjadi dimensi sebuah judul program hiburan; di mana judul cukup menarik ketertarikan pemirsa untuk mencari tahu lebih jauh content program tersebut, adanya karakter yang menentukan (dipasang nya beberapa public figure yang memiliki value; cerdas, cantik, sukses), mood setting – respon emosional dari judul yang dilabelkan sebagai cara berbicara dengan pemirsa.
3.1.2 Aktifitas Komunikasi Massa sebagai Transmisi Budaya
Kehidupan masyarakat kota pada umumnya satu sama lain tidak saling mengenal dan interaksi-interaksi mereka didasari oleh kepentingan dan kebutuhan yang dilandasi pada hubungan sekunder, sehingga secara real media massa telah menjadi salah satu kebutuhan dalam berinteraksi di dalam masyarakat perkotaan satu dengan lainnya. Seperti yang telah disinggung di awal- bahwa sebuah produk media massa dibuat tidak lagi dibuat hanya sebagai pemenuhan kebutuhan publik atas eksistensi media massa sebagai media informasi, namun juga telah sarat dengan muatan ekonomis (komersial) yang harus dikejar mengingat media massa (televisi) adalah industri yang membutuhkan dana besar melalui iklan. Kebanyakan produk televisi saat ini merupakan produk budaya massa- yaitu:
 Produk yang dihasilkan karena tuntutan industri kepada produser untuk menelurkan program-program yang banyak dalam waktu singkat –sehingga tak ada lagi waktu bagi produser untuk membuat suatu produk yang ideal
 Massa budaya cenderung latah menyulap atau meniru segala sesuatu yang sedang naik daun atau laris, sehingga konsep follower ini berseberangan dengan idialisme pembuatan sebuah produk yang bermuatan positif sebagaimana mestinya (= program yang dibuat dengan konsep serius (biasanya yang bernuansa politik, ekonomi, kebangsaan dll), terkadang membuat “ngeri” pemasang iklan untuk membeli ruang iklan yang ditawarkan)
Budaya Massa cenderung dipengaruhi budaya popular – pemikiran budaya popular menurut Ben Agger (1992;24) dapat dikelompokkan diantaranya; (a) budaya dibangun berdasarkan kesenangan namun tidak substansial dan mengentaskan orang dari kejenuhan kerja sepanjang hari; (b) Kebudayaan popular menghancurkan kebudayaan tradisional;

Sebuah budaya yang akan memasuki dunia hiburan, maka umumnya menempatkan unsur popular sebagai unsur utamanya. Dan budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai by pass penyebaran pengaruh di masyarakat. Mengekspresikan budaya dominant dan mengakui keberadaan kebudayaan khusus (subculture) serta perkembangan budaya baru.
Pada program “Silat Lidah” unsur budaya popular demikian kental mewarnai content/ isi program. Dengan icon-icon public figure yang identik dengan budaya modern; contoh: Julia Perez – salah satu panelis “Silat Lidah” foto model internasional, icon Majalah Play Boy Eropa, menikah dengan pria berkebangsaan Perancis dengan status pernikahan yang “menggantung”; cenderung selalu beropini yang jauh dari sifat konservatif.
Kebudayaan popular lebih banyak berpengaruh pada kelompok orang muda dan menjadi pusat ideologi masyarakat dan kebudayaan, meski budaya popular terus menjadi kontradiksi dan perdebatan – sebagai yang merusak kebudayaan tradisional.
Proses reproduksi juga terjadi pada saat budaya hiburan mampu mereproduksi tatanan baru dalam interaksi individu dan keluarga di masyarakat. Seperti pada salah satu topik yang diangkat menjadi issue pada tayangan Silat Lidah berjudul “ Selingkuh dengan Saudara Tiri” – produser mereproduksi hubungan perselingkuhan sebagai bagian yang dulu ditolak masyarakat, menjadi hal yang samara-samar atau malahan hal yang biasa. Reproduksi semacam ini semakin membiaskan kaidah dasar tentang kesalahan dan kebenaran, seolah kemerdekaan pribadi menjadi ukuran utama dan dalam dunia postmodern ukuran ini semakin tidak jelas.

Tanda di Dalam Iklan Televisi

Makna menjelaskan hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu isyarat (tanda-tanda). Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi (Sobur, 2006:15). Manusia dengan perantaraan tanda-tanda tersebut mampu melakukan komunikasi dengan sesamanya. Suatu isyarat (tanda) menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, dan makna ialah hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu tanda (Littlejohn, 1996:64; Sobur, 2006:16).

Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang secara luas berkaitan dengan simbol, bahasa, wacana dan bentuk-bentuk nonverbal, teori-teori yang menjelaskan tentang bagaimana tanda tersebut disusun dan berhubungan. Dengan tanda-tanda, manusia berupaya mencari keteraturan dalam ketidakberaturan, atau setidaknya sebagai pegangan dalam berinteraksi dengan sesama.

Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan dalam sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut tanda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkai bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap, berbicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk, bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan, semuanya itu dianggap sebagai tanda (Zoest, 1993:18).

Tanda menurut Susanne Langer dalam Philosphy in New Key adalah stimulus yang menandakan keberadaan sesuatu yang lain di luar tanda tersebut. Langer menempatkan tanda-tanda sebagai sentral filosofi dikarenakan hal itu menyangkut segala sesuatu yang di ketahui dan di mengerti oleh manusia. Menurut Langer, kehidupan binatang di dominasi oleh perasaan, namun bagi manusia perasaan di mediasi oleh konsepsi, simbol, dan bahasa. Sebagai contoh apabila anda melatih anjing anda untuk berguling setiap kali anda meneriakkan kata ”berguling” kepada anjing Anda, kata ”berguling” tersebut menandakan anjing anda untuk melakukan seperti yang anda perintahkan. Lebih jauh dari apa yang di kemukakan di atas, bahwa tanda juga merujuk secara dekat dengan situasi yang sesungguhnya. Awan hitam menjadi tanda hari akan hujan, tawa menandakan kebahagiaan, lampu merah tanda dari rambu lalu lintas. Bagi Langer, simbol (tanda) merupakan sentral dari kehidupan manusia. Individu memiliki kemampuan untuk mempergunakan tanda dan individu juga memiliki kebutuhan dasar atas tanda-tanda tersebut. Individu memusatkan kehidupan fisik dan sosialnya melalui tanda dan makna tanda-tanda itu sendiri (Littlejohn, 2006:101)

Tanda dalam kehidupan manusia bisa tanda gerak atau isyarat. Lambaian tangan yang bisa diartikan memanggil atau anggukan kepala dapat diterjemahkan setuju. Tanda bunyi, seperti tiupan peluit, terompet, genderang, suara manusia, dering telpon. Tanda tulisan, di antaranya huruf dan angka. Bisa juga tanda gambar berbentuk rambu lalulintas, dan masih banyak ragamnya (Noth, 1995:44).

Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut referent. Mawar merah mengacu pada perasaan cinta. Wajah cerah menandakan kebahagiaan. Air mata menandakan kesedihan. Apabila hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak orang yang melihat atau mendengar akan timbul pengertian (Eco, 1979:59).

Jika pemaparan diatas dikaitkan dengan bekerjanya sebuah iklan komersial di televisi (TVC), maka setiap pesan iklan merupakan pertemuan antara signifier (lapisan ungkapan) dan signified (lapisan makna). Lewat unsur verbal dan visual (nonverbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, di mana makna pesan dapat dipahami secara utuh (Barthes, 1998:172-173).

Terobosan penting pada semiotika adalah diterimanya penerapan konsep-konsep linguistik ke dalam fenomena lain yang bukan hanya bahasa tertulis; yang dalam pendekatan ini lantas diandaikan sebagai teks pula. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan produk media, seluruh tampilan media baik dalam bentuk tulisan, visual, audio, bahkan audiovisual sekalipun akan dianggap sebagai teks. Maka sebuah iklan televisi yang ingin menghadirkan konstruksi makna perlu memperlakukan keseluruhan unsur dalam iklan tersebut sebagai teks, sekaligus mempertautkannya dengan fenomena sosial yang kontekstual.

Satu hal yang tidak dapat diabaikan dalam pendekatan semiotika adalah pentingnya peran bahasa. Suatu makna diproduksi dari konsep-konsep dalam pikiran seorang pemberi makna (pembaca) melalui bahasa. Representasi merupakan hubungan antara tanda konsep-konsep yang memungkinkan pembaca menunjuk pada dunia yang sesungguhnya dari suatu obyek, realitas, atau pada dunia imajiner tentang obyek fiktif, manusia atau peristiwa. Sebuah scene iklan yang menggambarkan sepasang suami istri yang berpegangan tangan saat tidur bersama, merepresentasikan konsep sebuah kedekatan relasi antar gender.

Sebuah teks (karya) hanya dapat eksis, menurut Kristeva, apabila di dalamnya, beberapa ungkapan yang berasal dari teks-teks lain, silang menyilang dan saling menetralisir satu dengan lainnya. Sebagai proses linguistik dan diskursif, Kristeva menjelaskan intertektualitas sebagai pelintasan dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya. Julia Kristeva menggunakan istilah intertekstualitas untuk menjelaskan fenomena dialog antarteks ini, adanya kesalingtergantungan antara suatu teks (karya) dengan teks (karya) sebelumnya. Apa yang didefinisikan oleh Kristeva sebagai intertektualitas, terlihat pada tanda iklan yang terhegemoni. Dengan hegemoni tanda, wanita dalam ruang publik media massa (iklan) menjadi obyek bagi kaum kapitalis – yaitu produsen dan pengiklan.